Muslim Sejati Pantang Pikirkan Diri Sendiri

helping-one-another

Insan senantiasa berkeinginan membuktikan ketakwaannya dengan peduli untuk berbagi terhadap saudara Muslim lainnya.

Saling membina persahabatan, persaudaraan dan persatuan dan berbagi pada sesama umat Islam cukup banyak disampaikan dalam al-Quran.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron [3]: 134).

Ayat ini panduan strategis Muslim untuk menjadi pribadi yang memiliki arti bagi agama dan kehidupan. Allah memberikan panduan praktis terkait apa yang mesti dilakukan setiap Muslim untuk menjadi insan takwa, yakni tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga saudaranya yang lain.

Sebaliknya berupaya memberikan yang terbaik bagi sesama, baik dalam kondisi lapang maupun sempit, suka maupun terpaksa, sehat maupun sakit dan dalam seluruh keadaan.

Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan, orang yang bertakwa adalah orang yang tidak hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi orang yang disibukkkan oleh perkara-perkara yang membuatnya tunduk dan taat kepada Allah Ta’ala, berinfak di jalan-Nya dan juga berbuat baik dengan segala macam kebajikan, kepada kerabat maupun kepada saudara seiman lainnya.

Dengan demikian, maka akan terbina kerukunan sesama Muslim yang persaudaraan, pemaafan dan hubungan baik lebih diutamakan daripada keegoisan dan kesombongan serta gengsi pribadi, sehingga terciptalah persatuan dan kesatuan umat Islam. Suatu modal paling penting bagi setiap Muslim untuk menjadi pribadi yang bertakwa.

Kepedulian dan Kebersamaan

Seperti kita ketahui, Ramadhan di tahun ini, sebagian umat Islam di negara-negara lain, menjalani puasa dengan situasi yang sangat buruk. Ada yang harus menderita karena pembantaian Zionis di Palestina, pembantaian Suku Rohingya serta kesewenang-wenangan penguasa tangan besi di Suriah.

Keberadaan mereka memang cukup jauh dari negeri kita. Tetapi, adalah kewajiban umat Islam Indonesia juga untuk turut serta membantu saudara seiman kita yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan?

Sesungguhnya umat Islam satu dengan umat Islam lainnya ibarat satu tubuh atau satu bangunan, kata Nabi. Sudah semestinya saling membantu dan saling melindungi. Karena setiap Muslim hakikatnya adalah bersuadara.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. (QS. Al Hujurat [49]: 10).

Oleh karena itu Allah sangat suka kepada Muslim yang mau membina persahabatan, persaudaraan dan persatuan layaknya bangunan yang kokoh, lebih-lebih dalam upaya membela agama Allah (QS. 61: 4).

Apabila hal itu terwujud, maka jaminan Allah akan menyertai kehidupan umat Islam. Rasul bersabda, “Allah akan terus menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya. (HR. Bukhari).

Dalam hadits Nabi lain disebutkan,  “Jika seorang Muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka malaikat akan mengucapkan: ‘Amin, dan bagimu sepertinya,” (HR. Muslim).

Rasulullah mengecam umat Islam yang tidak peduli nasib saudara seiman.

من لا يهتم بأمر المسلمين فليس منهم

Barangsiapa yang tidak peduli urusan kaum Muslimin, Maka Dia bukan golonganku.” (Al-Hadits).

“Barangsiapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka” (HR. Al-Hakim dan Baihaqi).

Untuk itu mari kita tata kembali hati dan hidup kita untuk bermanfaat dan bermakna bagi sesama. Sungguh tidak artinya hidup ini, manakala hanya untuk kesenangan pribadi.

Rep: Imam Nawawi
Sumber: http://hidayatullah.com

Sekelumit Fakta Tentang Genosida Muslim Rohingya di Burma

PEMBANTAIAN dan kekejian lainnya terhadap Muslim Rohingya di Burma (Myanmar)-terutama di Arakan-sebenarnya bukan pertama kalinya di tahun ini, namun dimulai pertengahan tahun ini penindasan terhadap Muslim di Arakan meningkat tajam hingga mengejutkan mata dunia.

Selama ini, media Islam-lah yang berusaha untuk mengungkap tragedi berdarah yang menimpa umat Islam di Burma disaat media internasional ‘kelas atas’ pada umumnya bungkam, sehingga banyak orang di dunia tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya terhadap Muslim Rohingya. Namun, fakta-fakta yang dipaparkan selama ini oleh media Islam masih saja menghadapi berbagai hujatan dan kritikan dari orang-orang yang ragu, meskipun sumbernya dari mereka yang memiliki koneksi  langsung ke Muslim Rohingya di Arakan. Terlebih lagi, beredarnya beberapa foto-foto hoax tentang genosida Muslim Rohingya baru-baru ini juga dijadikan alasan sebagian orang untuk tidak mempercayai fakta yang ada. Walaupun begitu, fakta tetaplah fakta, yang pasti akan terungkap meskipun disembunyikan dan meskipun banyak orang yang meragukan.

Berikut ini adalah sebuah pemaparan fakta terkait genosida atau upaya pembersihan etnis Muslim Rohingya di Burma yang ditulis dan dipublikasikan oleh salah satu media jihadGlobal Islamic Media Front, yang diterjemahkan oleh tim Maktabah Jahizuna, berdasarkan laporan kredibel dari tempat kejadian, untuk mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya terjadi dan bantahan bagi orang-orang yang meragukan genosida ini dan bahwa kerusuhan etnis ini bukan dipicu oleh kaum Muslimin.

***

Sebab Awal Pembantaian ini?

Pembantaian ini di awali dari fitnah yang disebarkan oleh orang-orang Budha Rakhine terhadap minoritas Muslim Rohingnya. Dimana dikatakan bahwa tiga pemuda Muslim telah membunuh dan memperkosa seorang wanita berusia 26 tahun. Tentu saja semua itu bohong. Dimana sebenarnya perempuan itu diperkosa dan dibunuh oleh pacarnya bersama beberapa gang pemuda Budha Rakhine. Peristiwa pembunuhan itu di awali ketika sang gadis ingin “putus” dengan sang pacar dikarenakan dia jatuh hati pada laki-laki lain. Maka sang laki-laki pun berusaha membujuk agar tidak putus. Namun ternyata ditolak, maka sang mantan pacar ini marah dan kemudian mengajak dua temannya untuk membalas dendam dengan memperkosa dan membunuh sang gadis.

Lalu para pembunuh itu meletakkan mayat gadis itu di dekat desa Muslim. Kemudian orang-orang Budha Rakhine dan Quaffer Burma (Otoritas Myanmar) menuduh bahwa orang-orang Muslim membunuh perempuan itu. Akibatnya, tiga pemuda Muslim yang tidak bersalah ditangkap. Satu dipukuli hingga tewas dan dua lainnya dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Inilah fakta yang ditunjukkan oleh Pemerintah Budha Burma kepada dunia, bahwa mereka berani menciptakan peristiwa dan kasus palsu hanya untuk mencari kesempatan membunuh Umat Islam Rohingnya.

Situasi Muslim Rohingya Sebelum Awal Genosida ini

Beberapa bulan sebelumnya, para ekstrimis Budha Rakhine dan Xenophobia, mereka banyak membuat propaganda-propaganda anti Muslim Rohingnya. Dan semua itu direlease baik di dalam maupun di luar Burma. Dengan mengusung slogan lama yakni “Rohingnya (sebutan untuk Muslim di sana -pent) bukanlah orang Burma, mereka adalah imigran gelap dari Bangladesh”. Dengan maksud untuk memusnahkan dan mengusir Kaum Muslimin di sana.

Anehnya, seluruh kejadian yang ada (protes dan sebagainya -pent) seperti telah diorganisir dan seluruh kejadian yang terjadi sesuai dengan statemen dan skema yang pernah dikeluarkan oleh beberapa Menteri dan Pihak Pemerintah yang berkuasa.

Bagaimana Pembantaian itu Dimulai dan Apa Yang Terjadi Setelah itu?

Pada tanggal 3 Juni 2012, Rombongan Jemaah Muslim Rangoon yang baru kembali dari pengajian dan wisata rohani di Masjid Thetsa di daerah Thandwe di Negara bagian Arakan Selatan. Para Jamaah mengendarai bus yang menuju daerah Rangoon, namun di tengah perjalanan mereka dihadang oleh massa Budha Rakhine di kota Taungup di Negara Arakan bagian selatan. Lalu tiba-tiba massa mengamuk dan berusaha membunuh semua penumpang. Dimana seorang pemandu, kernet dan seorang wanita meninggal. Lalu di pihak Jemaah 8 orang Jemaah tewas. Dan lima Jamaah lainnya dapat melarikan diri dengan selamat.

Kejadian ini terjadi di depan Kantor Imigrasi. Pada mulanya gerombolan Teroris Budha Rakhine itu menghentikan bus naas yang berplat nomor 7 (GA) 7868 ini. Mereka menghentikan bus tepat di depan gerbang Imigrasi. Sembari membawa senjata mereka menurunkan semua penumpang bus dan berteriak, “Turun semua, kami mencari orang-orang asing !!!” (sebutan untuk kaum Muslimin Rohingnya, yang tidak dianggap sebagai Warga Negara Burma –pent).

Lalu pemandu jalan dan beberapa penumpang bus turun dan meminta agar massa teroris itu tidak melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap seluruh penumpang. Namun para teroris itu tidak menghiraukan mereka dan memasuki bus secara paksa, lalu berteriak pada para penumpang bahwa mereka mencari “orang-orang asing”. Kemudian mereka mulai memukuli dan menyeret para Jamaah Muslim turun ke jalanan. Para teroris Rakhine yang berjumlah sekitar 300 orang itupun mengeroyok beberapa Jamaah Muslim hingga tewas. Lalu setelah itu massa teroris itu juga menghancurkan dan membakar bus tersebut.

Anehnya, massa sebelumnya telah berkumpul di depan gerbang kantor Imigrasi pemerintah, namun tidak ada satupun pihak yang berwenang yang berusaha membubarkan mereka sebelumnya. Dan pada saat kejadian itupun tidak terlihat adanya aparat maupun petugas kantor Imigrasi yang berusaha mencegah pembantaian itu.

Berdasarkan daftar yang beredar, delapan korban Muslim yang berangkat dari Masjid Tachan Pai ke Tandwe, semuanya berasal dari Burma tengah. Berikut data mereka:

  • Muhammad Sharief @ U Ne Pwe s / o U Ahmed Suban, 58 8/Ta Ka Ta (N) 095548, dari Taung Twin Gyi
  • Muhammad Hanif @ U Maung Ni s / o U kay sufi Pe, 65 8/Ta Ka Ta (N) 095530, dari Taung Twin Gyi
  • Shafield Bai @ U Aye Lwin s / o UA Hpoe Gyi, 52 8/Ta ka Ta (N) 093573, dari Taung Gyi Twin
  • Aslam Bai @ U Aung Myint s / o U Hla Maung, 508/Ta ka Ta (N) 094557, dari Taung Twin Gyi
  • Balai Bai @ Tayzar Myint s / o U Yakub, 288/Ta ka Ta (N) 189815, dari Taung Twin Gyi
  • Shuaib @ Tin Maung Htwe s / o U Tin Oo, 218/Ta ka Ta (N) 231084, dari Taung Twin Gyi
  • Salim Bai @ Aung Kyaw Bo Bo s / o U Tun Tun Zaw, 2614/Ma La Na (N) 231084, dari Myaung Mya
  • Lukman Bai @ Nyi Nyi Zaw Htut s / o U Ibrahim, 3314/Ma La Na (N) 148133, dari Myaung Mya

Dan dua korban lainnya adalah pasangan suami istri dari kota Thandwe, merupakan awak bus. Para korban pun dikuburkan di Tandwe pada malamnya. Lima Jamaah lainnya berhasil melarikan diri dari pembunuhan brutal itu.

Lalu untuk merayakan hal itu, para teroris Rakhine meludahi dan mengguyur mayat-mayat kaum Muslimin yang tergeletak di tengah jalan itu dengan anggur dan minuman keras. Namun anehnya pula, tidak ada satupun orang yang ditangkap dan tidak ada tindakan hukum terhdapa para pembunuh itu.

Para Petugas Keamanan Rakhine Menjarah dan Membakar Seluruh Property Kaum Muslimin Rohingnya Dengan Alasan Uu No. 144

Pemberlakuan UU no. 144 oleh Otoritas Burma, memaksa komunitas Muslim Rohingnya dari Maungdaw tidak dapat keluar dari rumahnya ketika Aparat memasuki area mereka. Namun di sisi lain, orang-orang Rakhine bebas berkeliaran sehingga merekapun dengan bebas menyerang, menjarah dan membunuhi kaum muslimin di sana.

Anehnya personil keamanan Burma itu, malah berusaha melindungi orang-orang Budha Rakhine, ketika mereka sedang mempersiapkan diri untuk membakar rumah penduduk Muslim Rohingnya.

Menurut seorang tetua Maungdaw bahwa Personil keamanan melepaskan tembakan secara memababi buta ke arah kerumunan Muslim Rohingya yang berusaha melindungi harta dan properti mereka.

Pada 8 Juni 2012, Personil Keamanan dan orang-orang Budha Rakhine melakukan penyerangan. Mereka membakar rumah beberapa orang yakni Razak, Lalu dan Syed Ahmad. Lebih dari lima toko pakaian di jarah, dimana total kerugian sekitar 150.000.000 kyat. Satu masjid di desa Sawmawna dihancurkan. Dan lebih dari 200 Muslim Rohingnya terluka.

Pada tanggal 9 Juni 2012, terjadi penyerangan oleh para teroris rasis Budha Rakhine dan Aparat Keamanan, dimana 100 orang tewas dan hampir 500 orang terluka.

Pembantaian Terhadap Kaum Muslim di Arakan Terus Terjadi Meskipun Pihak Tentara Telah Menyatakan Mereka Sudah Mengontrol Situasi yang Ada Sebagian besar kaum Muslimin Rohingnya melarikan diri ke Bangladesh dari Akyab. Hal ini karena terror dan kekerasan yang terjadi di Negara bagian Arakan tersebut, dimana desa-desa Muslim Rohingnya dibakar dan banyak Muslim Rohingnya yang dibunuh oleh Polisi, Aparat Kemanan dan para teroris Budha. Kaum Muslimin Rohingnya pun berbondong-bondong menuju Bangladesh, yang mana mereka berpikir bahwa Bangladesh adalah Negara Islam, sehingga karena sesame Muslim maka mereka akan di bantu.

Sayangnya, thaghut murtad Pemerintah Bangladesh dan tentaranya menolak dan melarang Muslim Rohingnya memasuki Bangladesh. Dan jika ada Muslim setempat (Bangladesh) memberi bantuan atau menampung para pengungsi Muslim Rohingnya, maka mereka akan ditangkap dan bagi Muslim Rohingnya maka mereka akan di deportasi.

Semenjak 8 Juni 2012, pihak berwenang Burma baru-baru ini mendirikan sebuah ruang sidang khusus di dalam Kantor Polisi Maungdaw. Seorang Tetua setempat mengatakan, “Pengadilan Khusus itu digunakan untuk Muslim Rohingya yang ditangkap oleh Polisi, Nasaka (Pasukan Keamanan Perbatasan) dan Tentara; dengan tuduhan menciptakan masalah dan kerusuhan di Maungdaw. Tidak ada argumen maupun pembelaan dari terdakwa di Pengadilan Khusus ini. Dimana hakim hanya membaca pernyataan lalu mengirim mereka ke penjara. “

Siapapun tidak bisa menemukan kerabatnya, jika telah ditangkap oleh pihak berwenang. Dan mereka pun tidak mengetahui kapan dan bagaimana kerabatnya itu akan disidang di Pengadilan Khusus itu, kata seorang Politisi Maungdaw. Ini merupakan taktik baru yang dilakukan Otoritas Budha Burma, dalam memperkosa wanita Muslimah Rohingnya. Hal ini membuat tidak ada tempat aman bagi para Muslimah Rohingnya di Maungdaw. Kata seorang Politisi Maungdaw, “Semenjak 8-19 Juni 2012, telah tercatat lebih dari 60 perempuan diperkosa di Maungdaw oleh para Petugas Keamanan – baik itu Polisi, Hluntin (Pasukan Keamanan), Nasaka, dan Tentara- bersama dengan orang-orang Budha Rakhine dan Natala (pemukim baru).”

Pemerkosaan dan penyerangan itu dilakukan secara licik. Dimana sebelumnya, Pihak berwenang mengajak seluruh laki-laki di wajibkan untuk datang ke pertemuan mereka. Sementara semua orang melakukan pertemuan, Pasukan Keamanan-pun dikirimkan untuk memasuki dan menyerang desa-desa tersebut. Sebagian besar Muslimah Rohingnya yang tinggal di rumah mereka -pun diperkosa oleh Petugas Keamanan bersama orang-orang Budha Rakhine dan Natala. Mereka-pun menghancurkan dan menjarah harta yang ada. Berdasarkan keterangan dari para korban di Paungzarr, mereka menyatakan bahwa, “Pihak Keamanan – Tentara dan Nasaka – memasuki desa pada malam harinya ketika para lelaki mengikuti pertemuan oleh Pihak Berwenang. Para lelaki semuanya keluar menghadiri pertemuan karena takut ditangkap jika tidak berangkat.

Kemudian dengan liciknya Pasukan Keamanan memasuki rumah-rumah, dengan alasan hendak mengecek, adakah keluarganya yang tidak hadir dalam pertemuan itu. Lalu setelah itu merekapun diperkosa dengan keji.”

Muslim tidak dilindungi di Arakan (Maungdaw dan Akyab) oleh pasukan keamanan – baik itu Nasaka, Hluntin, maupun Polisi – yang mana mereka telah menjelma menjadi “kekuatan pembunuh”. Alih-alih mereka melindungi orang-orang yang tidak berdaya, mengendalikan situasi, dan memulihkan hukum dan ketertiban. Malah mereka mengamuk dan membakar desa-desa Muslim dan menembak orang-orang yang berusaha melarikan diri dari rumah-rumah yang terbakar.

Jam malam yang diberlakukan hanyalah upaya untuk melakukan pembunuhan secara sistematis terhadap Muslim di kota Akyab dan kota Maungdaw. Dimana ketika jam malam tiba, “orang-orang suci Budha” bersama para pengikutnya dari Arakan turun ke jalan-jalan, bersama-sama dengan Pasukan Keamanan. Mereka berjalan menuju ke desa-desa Muslim secara bersama-sama. Sesampai di sana, mereka mulai membanjiri tanah dengan darah Muslim Rohingnya, lalu memerahkan langit dengan api yang membakar desa dan properti kaum Muslimin Rohingnya. Dan membuat malam yang sunyi, penuh dengan teriakan dan ketakutan.

Hasbunalloh Wani’mal Wakil….

Sya’ban 1433
Juli 2012
Source: (Echo of Jihad Center for Media)
Global Islamic Media Front
Mengamati Berita Mujahidin dan Menginspirasi orang-orang mukmin

Alih Bahasa
Abu Muwahid hafidhahullah

Maktabah Jahizuna/jahizuna.com

(siraaj/arrahmah.com)

– See more at: http://system.arrahmah.id/read/2012/08/03/22150-sekelumit-fakta-tentang-genosida-muslim-rohingya-di-burma.html#sthash.HwBuJTk7.dpuf

Derita Suriah Harus Menjadi Derita Kaum Muslimin Sedunia

Oleh: Doddy CHP
Relawan Kemanusiaan

Beberapa hari lalu ada sebuah berita tentang seorang anak Suriah memakan karton untuk menyambung hidupnya. Beberapa waktu silam tersiar kabar bahwa hewan seperti anjing dan kucing diperbolehkan dimakan untuk memperlama hisapan nafas kehidupan makhluk mulia yang bernama manusia di sebuah pijakan bumi bernama Suriah. Entah sudah tak terhitung berita berita tentang ratusan ribu jiwa melayang, ribuan cacat dan terluka, anak-anak yatim, hancurnya tempat tinggal, jutaan orang mengungsi, kelaparan, penyakit, dan berbagai derita yang tak terbayangkan. Semua adalah akibat perang di Suriah yang semakin lama akan semakin mematikan.Perang sudah hampir berlangsung selama 3 tahun. Dan perang ini nampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Walau demikian, banyak di antara kita tidak menyadari arti perang dahsyat ini. Perhatian kita cepat sekali muncul dan membesar bila mendengar tentang bumi Palestina yang teraniaya, namun tidak dengan Suriah. Padahal yang terjadi detik ini di Suriah sungguh merupakan perang besar peradaban dengan segala intrik, konspirasi, sarat kepentingan, dan mungkin saja merupakan tanda akhir zaman. Masyarakat juga seolah terkelabui dan terpaku bahwa perang di Suriah adalah perang saudara yang tidak perlu kita ikut campur atasnya.

Ribuan masyarakat sipil dari seluruh penjuru dunia saat ini sudah hadir di Suriah untuk membantu perlawanan rakyat untuk menjatuhkan rezim Bashar Assad. Perlawanan rakyat juga terus menguat , memperluas wilayah dan mulai menjepit kedudukan Assad. Pemuda-pemuda dari negeri-negeri yang jauh datang ke Suriah dengan keinginan membela saudara-saudaranya dan membuat negara Suriah baru sebagai sasaran antara dengan tujuan akhir membebaskan Palestina dari pendudukan Israel, sebagaimana Shalahuddin Al Ayyubi membebaskan Palestina dari gerbang Suriah.

Namun Assad tidak sendiri. Ribuan milisi Hezbollah (baca: Hizbus syaithon) dari Lebanon juga telah membanjiri berbagai kawasan di Suriah untuk membela Assad. Iran selaku sekutu rezim juga sudah turun ke gelanggang jauh hari. Juga Rusia yang terus membela rezim di sidang PBB dan dilapangan juga terus memasok senjata-senjata berat nya untuk memperkuat pasukan Assad. Dan tentu saja Israel sangat berkepentingan untuk menyokong rezim berkuasa di Suriah yang selama ini melindunginya terlebih sangat sadar bahwa pergantian rezim di Suriah bisa menjadi lonceng kematian bagi negara zionis tersebut. Israel sangat sadar bahwa Gaza dan tepi Barat bukanlah ancaman berarti, namun Suriah lah yang berpotensi meremukkan mereka.

Amerika dan sekutunya selaku pembela Israel juga terus bergerak, secara perlahan dan tersembunyi mendukung rezim walaupun dalam retorika nya selalu mengancam Bashar Assad dengan berbagai skenario, termasuk mendukung apa yang mereka sebut sebagai oposisi. Apapun skenarionya, tujuannya pasti yaitu mencegah adanya kelahiran kekuasaan baru di Suriah yang mengancam kepentingannya.

Perang di Suriah inilah sebenarnya yang membuat Presiden Mursi terjungkal setelah sesaat menyerukan jihad di Suriah.

Sementara perang terus berlangsung, jutaan rakyat Suriah terlunta. Apalagi pada musim dingin saat ini yang menerjang kawasan itu. Tidak habis pikir bila masyarakat dunia seolah melupakan mereka dan tidak peduli.

Makan anjing, makan kucing, makan karton, mustinya tidak ada di berita-berita dunia..

Saya menulis artikel ini pada dinihari setelah membaca kembali artikel tentang seorang anak yang makan karton dengan mata berlinang teringat saudara-saudara kita disana seraya merenungkan hadis Rasullullah yang mulia,

“Barang Siapa tidak ikut peduli dan tidak perhatian terhadap urusan orang Islam maka bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari-Muslim).

Wallahu A’lam.

Derita Muslim Palestina: Dijajah Israel, Dizhalimi Syiah

Oleh: Muhammad Pizaro
Sekjend Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Mampus Amerika!
[Di Irak, Syiah Kerjasama dengan Obama]

Mampus Israel!
[Di Suriah, Bashar bergandengan dengan Militer Israel]

Kata-kata kecaman dari tokoh Syiah Indonesia itu menjadi lagu usang yang terus diputar dalam tiap perayaan Al Quds Day. Hari itu telah secara rutin menjadi momentum bagi Syiah untuk meraih simpati dunia tentang dukungannya kepada rakyat Palestina. Syiah memang getol menebar propaganda sebagai pihak yang paling “peduli” terhadap nasib Palestina dan terdepan melawan Israel. Pertanyaannya, benarkah?

Nasib warga Palestina di Suriah

Di antara jutaan orang yang terusir dari rumah akibat perang di Suriah, adalah 270.000 pengungsi Palestina. Dari jumlah itu, 20.000 pengungsi Palestina di Yarmouk, Damaskus, bahkan harus menghadapi nasib yang jauh lebih buruk.

Kamp pengungsian tersebut dikepung oleh tentara Suriah sejak musim panas tahun lalu tanpa akses makanan, obat-obatan, dan perlengkapan lain.

Menurut kelompok aksi untuk Palestina dari Suriah, sudah sekitar 926 pengungsi Palestina tewas di dalam kamp Yarmouk di Damaskus sejak awal revolusi Suriah sampai akhir Mei 2014.

Terdapat 173 korban tewas di kamp Daraa dan 96 korban tewas di kamp Al-Husseiniya. Sebanyak 73 pengungsi Palestina lainnya tewas di kamp Khan Al-Sheikh di Damaskus.

Di kamp pengungsi Sabina, 58 orang Palestina tewas, bersama dengan 41 pengungsi dari kamp Neirab, 40 dari kamp Sayeda Zeinab, 33 dari kamp Aidin di Homs, dan 32 dari kamp Handarat di Aleppo.

Korban pengungsi Palestina lainnya tewas di kamp Ramel di Lattakia, Khan Dannoun, Al-Dhiyabia, dan Rukn al-Din.

Satu tahun sebelumnya, dua orang anak, bernama Farahat Mubarak dan Hisham Namrawi termasuk di antara empat orang yang terbunuh di kamp pengungsi Yarmuk.

Kamp-kamp pengungsi di Suriah memang sangat memprihatinkan. Kebutuhan para penghuni kamp akan makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal justru diblokade militer. Pasukan-pasukan rezim mengepung sebagian besar kamp itu, dan mempersulit keluar masuk orang dan barang.

Kelompok aktivis juga menunjukkan tiga remaja Palestina terbunuh di kamp Aidin di Hama. Mereka adalah Salim Khalil Al Sukhaini, Karam Mumammad Syaikh Kholil dan Farin Mahmud. Ketiga remaja Palestina itu tewas setelah mobil yang mereka tumpangi diberondong pasukan Asad.

Sikap Hizbullah terhadap Hamas

Sontak pembunuhan demi pembunuhan warga Palestina oleh rezim Syiah di Suriah membuat Harakat al-Muqawama al-Islamiyya (Hamas) berang. Hamas mengutuk pembantaian rezim Syiah terhadap para pengungsi Palestina di Suriah.

Mereka menegaskan bahwa kamp-kamp pengungsi Palestina harus dinetralkan dan tinggal jauh dari konflik yang sedang berlangsung.

“Kami gerakan Hamas mengecam agresi Zionis ke Suriah. Kami menganggap ini sebagai pelanggaran serius dan tidak bisa diterima terjadi di tanah Arab, sekaligus sebagai kelanjutan dan kebijakan teror dan agresi Zionis,” kecam Hamas.

Hamas menambahkan bahwa mereka merasa sangat sakit atas terus tertumpahnya darah rakyat Suriah. Faksi perlawanan Palestina itu merasa sangat prihatin dengan pembantaian, aksi-aksi pembunuhan dan intimidasi rakyat sipil di Suriah. Dari awal Hamas mendukung penuh perjuangan rakyat Suriah.

Hamas menyerukan penghentian pertumpahan darah di Suriah agar rakyat Suriah bisa merealisasikan cita-cita dan kebebesannya.

Rakyat Suriah adalah rakyat yang senantiasa mendukung gerakan perlawanan (Palestina), dan mereka berada dibarisan pertama,” tulis Hamas dalam pernyataannya.

Pilihan politik Hamas itu kemudian membuat Hezbollah murka. Pemimpin Hezbollah Hasan Nasrallah meminta semua pejabat dan kader Hamas yang berada di Libanon untuk segera meninggalkan negara itu.

Hasan Nasrallah menuduh Hamas telah terlibat dalam pelatihan militer bagi kelompok oposisi Suriah di Damaskus dan sekitarnya.

Dukungan Hezbollah dalam membantai rakyat Suriah dibalas oleh Petinggi Hamas Bara’ Nizar Rayyan. Putra Asy-Syiahid DR Nizar Rayyan itu balik melayangkan kritikan pedas kepada pemimpin Hasan Nashrallah. Dengan tegas, Nizar meminta Hasan berhenti cari muka.

” Ya Hasan Nashrallah, jangan kau cari sensasi di Gaza, sedang Kriminil Bashar Asad kau bela…!” kritiknya.

Nizar juga membantah klaim-klaim Syiah yang selama ini mengaku berperan dalam membantu mujahidin Hamas.

“Brigade Al-Qassam telah menghinamu dan membuatmu malu; dan menegaskan bahwa rudal-rudalnya adalah produksi dalam negeri. Rudal M75: M adalah singkatan dari Muqadimah, salah seorang pemimpin Al-Qassam yang telah syahid, dan 75 mengisyaratkan jarak tembaknya (75 KM). Rudal-rudal Al-Qassam 100% made in Gaza, dan tak ada hutang budi pada kaum sektarian!” bantahnya.

Sebagai sesama Sunni, Hamas berkewajiban mendukung perjuangan rakyat Suriah yang selama ini mengalami penindasan secara akidah maupun politik. Sejak tahun 2012, Asad mengecam keputusan Hamas untuk pindah kantor dari Damaskus ke Doha, Qatar.

Kepala Politbiro Khalid Misyal mengambil keputusan itu setelah situasi terus memburuk di Suriah.

Dengan sombong, Asad menyatakan bahwa Suriah adalah benteng terakhir dari perlawanan Arab anti-’Israel’, meski segala fakta terpampang jalinan kerjasamanya dengan ‘Israel’.

Kerjasama Syiah dan Israel dalam Pembantaian Muslim Palestina

Saat Ariel Sharon meregang nyawa, umat Islam tidak lupa kezaliman yang telah dilakukannya kepada warga Palestina. Namun banyak kaum muslim tidak menyadari bahwa Israel bukanlah aktor tunggal dalam pembantaian pengungsi Palestina di Kamp Sabra-Satila tahun 1982.

Selain Israel, milisi Syiah Lebanon dan Pemerintahan Suriah pimpinan Hafez Assad juga bertanggung jawab dalam tragedi berdarah itu. Hal ini bermula pada 1 Agustus 1982, ketika terjadi invasi Israel ke Lebanon dengan kekuatan 20.000 tentara yang dipimpin Ariel Sharon selaku Menteri Pertahanan.

Mereka menginvasi wilayah selatan Lebanon yang dihuni para pengungsi Palestina. Kekuatan militer Israel telah membombardir melalui darat, laut, dan udara. Air, makanan, dan obat-obatan dilarang kelompok Syiah untuk dibagikan kaum muslimin Sunni di Beirut bagian barat.

Pengeboman mengerikan dilakukan Zionis Yahudi selama empat belas jam tanpa henti dengan memuntahkan 214 proyektil per menit.

Sekitar 3.500-8.000 orang, termasuk anak-anak, bayi, wanita, dan orang tua dibantai dan dibunuh secara mengerikan.

Koalisi antara Israel dan aliansi Syiah ini adalah noda hitam yang selama ini terkubur oleh sejarah, dan harus diungkap agar umat memahami hakikat Yahudi dan Syiah.

Dua orang ulama yang mengangkat fakta ini adalah Syekh Abu Mushab As-Suri dalam buku Ahlussunah Fi Asy Syam Fi Muwajahati an-Nushairiyah wa as-Shalbiyyah wa al-Yahudi dan DR. Imad Ali Abdus Shami lewat bukunya Khiyanat Asy Syi’ah wa Atsaruha fi Hazaa-im Al Ummah Al Islamiyah.

Selain itu, media massa internasional saat itupun turut mengangkat tragedi kemanusiaan ini seperti Al-Wathan Kuwait, Sunday Times, Republika Italia, dan lain sebagainya.

Jauh sebelum pembantaian Sabra-Satila, Koalisi Syiah Nushairiyah dengan Gerakan Syiah Amal juga terlibat dalam penyerangan pengungsi Palestina di Kamp Zaatar, Yordania.

Pada tahun 1976 Pasukan Suriah dan Syiah Amal bekerja sama dengan milisi Salib Maronit dalam mengepung dan menyerang kamp pengungsi Palestina di Zaatar, Yordania.

Di dalam kamp tersebut bernaung setidaknya 7.000 pengungsi Palestina. Selain itu kamp Zaatar juga menampung 14.000 penduduk Lebanon yang tengah menghadapi aliansi kaum Kristen di Lebanon.

Kelompok Nushairiyah berdalih melancarakan pembantaian ini dengan alasan menghentikan perang saudara, sehingga berbagai macam bantuan datang dari organisasi-organisasi Arab untuk menutupi ongkos militer Suriah di Lebanon. Padahal itu hanyalah dusta belaka untuk mengalihkan rencana jahat Syiah.

Maka melihat segala kekejaman Syiah terhadap muslim Palestina, seharusnya menyadarkan umat Islam untuk tidak termakan opini busuk Syiah tentang dukungan mereka kepada muslim Palestina.

Benarlah kata relawan Mavi Marmara sekaligus aktivis pro Palestina asal Indonesia, Surya Fachrizal: “Salah satu ukuran lurus-tidaknya orang yang peduli terhadap Palestina adalah sikap mereka terhadap perjuangan rakyat suriah. Jika mereka mendukung rezim Assad as-Syiah an-Nushairiyyah membunuhi Ahlus Sunnah di sana (termasuk para pengungsi palestina di yarmuk-suriah), maka mereka tidak benar.”